T. Kamal Abraham dinobatkan sebagai Sultan Asahan XII

ADAT, memanglah essensial sekali bagi sesuatu ruangan lingkup masyarakat hukum dimanapun manusia berada. Bagaikan pribahasa lama HIDUP DIKANDUNG ADAT,  MATI DIKANDUNG TANAH. Demikianlah awal pidato perkenalan T Abraham Kamal ketika di nobatkan selaku pemangku adat Asahan pada tanggal 17 mei 1980 yang lalu dikota Tanjung Balai. Tengku Abraham Abdul Jalil Rachmadsyah , 22 Tahun, saat ini masih kuliah pada Fakultas Kedokteran USU Medan, adalah putra bungsu dari Tengku Saibun, Sultan Asahan XI, Tengku Abraham meskipun putra bungsu, tetapi beliau mewarisi bakat & watak Ayahandanya. Tengku Saibun mangkat pada tanggal 7 Mei 1980 di Medan dan dikebumikan di kompleks Makam diraja Sultan Asahan di Kota Tanjung Balai dengan upacara kebesaran zamannya Kesultanan Asahan pada masa lalu.

Raja mangkat Raja menanam

               Tiap Kerajaan masa lalu lazim berlaku semacam istilah “ Raja Mangkat Raja Menanam” yang dalam pengertian awamnya bahwa Raja yang mangkat, baru dapat dikebumikan setelah penganti Raja diangkat. Tradisi kelaziman pada masa lalu ini, tetap di laksanakan oleh keluarga Besar kesultanan Asaahan. Sebelum Tuanku Saibun mangkat, beliau beramanah pada ahli warisnya, apabila beliau mangkat, maka putra bungsunya yaitu Tengku Abraham Kamal menjadi pengantinya sebagai Sultan Asahan ke XII. Tradisi Raja mangkat Raja menamam di Kesultanan Asahan di laksanakan pada Tanggal 7 Mei 1980 di Jalan Sei Wampu Medan.

Upacara Penobatan

               Tidak kurang dari 500 orang yang turut menyaksikan jalannya upacara  ini, terdiri dari lingkungan keluarga, Rumpun Melayu Tanjung Balai Asahan [ PB – RMTBA] PPMI – SUMUT, Majelis Adat Budaya Melayu Medan, utusan bekas Kesultanan dari Deli, Langkat, Serdang, Asahan dan Labuhan Batu. Jalannya upacara berlangsung khidmat dan lancar, dimana Bentara sabda ( Protokol ) Muhammad Nazib memulai dengan rangkaian pantun pengantar acara. Kemudian Bentara sabda, mengumumkan bahwa pemangku adat menaiki fatarakna sebagaimana pelaminan kebesaran Kesultanan Asahan pada masa lalu. Pelaminan ini dulunya dikenal dengan FATARAKNA yang merupakan tempat semayam kebesaran yang dipertuan Sultan Asahan. Disisi kiri-kanan Fatarakna ini terdapat 2 payung kebesaran berwarna kuning, Fatarakna ini berupa gunung-gunungan bertingkat 3, disisi kiri depan terdapat 2 buah jorong, puan, sirih, jawi. Terletak diatas hamparan beledu merah berlapis kuning,  Kemudian muncullah 10 Orang penjawat putra & 6 Orang putri.

               Para Putra memakai calu kuning less putih, baju teluk belangga warnah merah, celana hitam, dan berselempang tudung kuning dibahu. Penjawat Putri memakai baju kurung hijau berkain hitam tudung kuning diselempankan di bahu, berjejer di depan fatarakna. Dimana penjawat putra bersenjatakan tombak yang berumbai-rumbai kuning, pedang berbalut kain kuning, dan keris terselip di pinggang. Sedangkan pejawat putri, masing-masing memegang pahar, yang berisi lilin yang dihidupkan.

               Sejenak muncullah di depan Fatarakna tuanku Kamal Abraham Abdul Djalil Rachmadsyah yang diapit oleh 2 orang bentara kiri dan kanan, dan selanjutnya dinaikan ke atas fatarakna. Setelah pemangku adat duduk di atas fatarakna, bentara sabda mengumumkan bahwa acara tepung tawar dan penobatan segera dimulai. Ali Syahbana yang memimpin acara penepung tawaran perkenalan dengan penganti Sultan Asahan XI, menyampaikan pantun berkaitnya, antara lain : LADANG PADI DITITIAN URAT, TUMBUH KELAGA ANTARA RUMPUT, DATANG KAMI MEMBAWA ADAT, SELURUH KELUARGA MEMOHON AMPUN.

               Inti sari dari seluruh adat, oleh Syahbana disimpulkan dalam filsafat, “ YANG BESAR DIBESARKAN, YANG TUA DIHORMATI, YANG KECIL DISAYANGI, YANG SAKIT DIOBATI, YANG BENAR DIBERI HAK, YANG KUAT TIDAK MELANDA, YANG TINGGI TIDAK MENGHIMPIT.

               Kemudian di dalam akhir bait, pantunnya Ali Syahbana menyebutkan dalam harapannya kepada pemangku adat yang baru dinobatkan, antara lain berbunyi “ rasa kelu buyar berpaut sedu, gerak tujuan bertaut temu, gunung dan panatai diliputi mesra, direnangi harap dan cita-cita, pelita tampak semakin nyata, timbul membubus pedalaman kata, orde baru pembangun semesta, akan dirasai juga oleh melayu desa.

               Bait pantun yang di sampaikan oleh Ali Syahbana cukup puitis, terdengar mampu mempesona pengunjung, selanjutnya bentara sabda mempersilahkan upacara penepung tawar dan sambutan yang diawali oleh yang mewakili Keluarga Besar Rumpun Melayu Tanjung Balai Asahan, Dtm Syariban. Kemudian PB.PBMI Sumut Letkol M Yusuf, Majelis Adat Budaya Melayu oleh Sultan Azmy Perkasa Alam ( Deli ) mewakili Bupati KDH Tingkat II Asahan Dtm Idris, Ketua DPRD Tingkat II Kota Tanjung Balai T.A Syarifuddin, T Ismail Bin T H Alang Yahya, T Alautdin Nazar, T Ulong Leha, T Ahmad Sulaiman mewakili keluarga bekas Kesultanan langkat, T.A Manan mewakili bekas Kesultanan Serdang & Labuhan Batu.

               Pada pokoknya upacara ini di langsungkan dalam suana haru dan gembira, mengingat pada malam ini juga merupakan malam kenduri 40 hari mangkatnya Sultan Saibun Abdul Djalil Rachmadsyah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.